Business Strategy
Generasi Ketiga Blue Bird, Sigit Djokosoetono Bagi Resep Bertahan Lima Dekade di SBBP Batch 8 powered by MIFX

Ringkasan Artikel
- Sigit Djokosoetono, generasi ketiga Blue Bird, mengingatkan pebisnis untuk berhenti terjebak perang harga karena yang cepat berubah biasanya juga cepat hilang
- Kunci Blue Bird bertahan lima dekade dan selamat dari gempuran ride-hailing adalah tetap setia pada DNA-nya sambil berkolaborasi dengan teknologi
- Bisnis yang ingin bertahan 50 tahun tidak bisa dibangun dengan mindset bertahan 5 tahun.
Jakarta, 17 Mei 2026 — Ballroom AONE Hotel diredupkan. Dua kursi disusun menghadap audiens, dan dari samping panggung melangkah masuk sosok yang sudah lama ditunggu — Sigit Djokosoetono, Deputy CEO PT Blue Bird Tbk., generasi ketiga dari keluarga pendiri perusahaan transportasi paling ikonik di Indonesia.
Lebih dari 70 pebisnis yang hadir di Sevenpreneur Business Blueprint Program (SBBP) Batch 8 powered by MIFX malam itu duduk dalam diam, menanti satu sesi yang sudah dinanti sejak rundown program dirilis.
Sesi yang dikemas dalam format fireside chat bertajuk “Winning Beyond Price: How Service Quality Builds Unbeatable Business” ini menjadi salah satu highlight utama SBBP Batch 8 powered by MIFX — bukan hanya karena nama besar Blue Bird, tetapi karena topiknya yang sangat relevan di tengah lanskap bisnis Indonesia yang semakin kompetitif.
Bukan Tentang Strategi Harga, Tapi Tentang Kepercayaan
Tanpa membongkar resep lengkap dari pengalaman lebih dari lima dekade Blue Bird, Sigit membuka percakapan dengan satu observasi tajam tentang kebiasaan yang ia lihat di banyak pebisnis muda Indonesia saat ini.
“Banyak pebisnis kita terjebak dalam perang harga, karena harga adalah hal paling cepat untuk diubah. Tetapi yang paling cepat berubah, biasanya juga yang paling cepat hilang,” ujarnya, disambut anggukan dari peserta.
Ia mengajak audiens untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya membuat pelanggan kembali, bukan sekadar membeli? Jawaban yang ia tawarkan — meski hanya dibahas garis besarnya di panggung, berputar di sekitar satu kata yang menurutnya adalah aset paling berharga sekaligus paling rapuh di setiap bisnis: kepercayaan.
Bertahan di Tengah Disrupsi yang Pernah Diprediksi Menamatkan Blue Bird
Salah satu momen paling reflektif dari sesi ini adalah ketika Sigit berbicara tentang periode di mana banyak orang memprediksi Blue Bird akan tergerus habis oleh gelombang ride-hailing apps. Tanpa menjelaskan secara detail langkah-langkah strategis yang diambil, Sigit memberikan satu prinsip yang ia sebut menjadi penyelamat bisnis warisan keluarganya:
“Kami memilih untuk tetap setia pada DNA kami — sambil belajar berkolaborasi, bukan berperang dengan teknologi.”
Pesan itu langsung dikutip oleh banyak peserta di akun social media masing-masing, beberapa bahkan menyebut sesi ini sebagai “masterclass kepemimpinan jangka panjang” yang paling membekas dari rangkaian SBBP Batch 8 powered by MIFX.
Pesan untuk Founder Indonesia
Menutup sesi, Sigit memberikan satu refleksi sederhana yang ditujukan khusus untuk para founder dan business owner yang sedang membangun bisnisnya: bahwa membangun pelayanan yang konsisten dan kepercayaan jangka panjang bukanlah strategi mewah yang hanya bisa dijalankan perusahaan besar, melainkan keputusan yang bisa dan harus diambil sejak hari pertama.
“Kalau ingin bisnis Anda bertahan 50 tahun, Anda tidak bisa membangunnya seperti bisnis yang hanya ingin bertahan 5 tahun,” tutupnya.
Sesi ditutup dengan tepuk tangan panjang dan sesi foto bersama, sebelum peserta SBBP Batch 8 melanjutkan ke kurikulum eksklusif lainnya bersama jajaran top coach program.